Monday, October 8, 2012

Ladda Land Review


” WELCOME TO LADDA LAND, WELCOME TO HOUSING COMPLEX FROM HELL “

Ladda Land, perumahan elit nan asri itu kembali mendapatkan anggota baru, adalah Thee (Saharat Sangkapreechat) yang baru saja membeli secara kredit satu unit rumah idaman untuk memulai awal baru bagi dirinya dan juga keluarga kecilny, tidak hanya itu, di sisi lain Thee juga ingin membuktikan kepada mertuanya yang selama ini tidak pernah menyukai dirinya bahwa ia adalah suami yang tepat dan bertanggung jawab buat istri dan dua anaknya. Sayang Nan(Atipit Chutiwatkajorncha), putri Thee tidak meyukai keputusan ayahnya itu pindah dari kediamannya di Bangkok.
Meskipun kemudian Thee sedih karena Nan membencinya namun bukan hal itu yang paling merisaukannya, bukan juga kekhawatiran bahwa ia tidak mampu membayar cicilan rumah dan pengeluaran keluarga yang semakin hari semakin besar dengan pekerjaanya yang bergaji pas-pasan itu, tapi ada sesuatu yang lain, sesuatu yang ganjil , sesuatu yang mengerikan yang sudah terjadi semenjak sebuah kejadian pembunuhan sadis menimpa seorang pembantu rumah tangga di salah satu hunian di komplek perumahan itu. Ya, sejak saat itu keasrian dan ketentraman yang dimilik Ladda Land berangsur-angsur menghilang, digantikan dengan suasana mencekam penuh teror.
Setelah habis-habisan di gempur oleh rentetan komedi romantis akhir-akhir, melalui kehadiran Ladda Land a.k.a The Lost Home tampaknya perfilman Thailand ingin meperingatkan penontonnya bahwa genre horor mereka yang terkenal itu belum lah habis dan masih  tetap menjadi tontonan nomor satu yang wajib ditunggu. Tentu saja Ladda Land jelas adalah sebuah proyek horor ambisus, lihat saja nama besar yang berdiri dibelakangnya, ada Sopon Sukdapisit salah satu manusia yang paling bertanggung jawab atas lahirnya naskah Shutter (2004) dan Alone (2007) dua mahakarya horor yang konon palim seram yang pernah di produksi oleh negeri gajah putih itu, atau dua naskah horor pendek dalam dwilogi horor omimbus, Phobia dan Phobia 2, belum lagi debut penyutradaraannya dalam Coming Soon. Ya, Dengan berbekal track record sebagus itu tentu saja pihak GTH menaruh harapan besar pada Sukdapisit di film kedunya ini, termasuk untuk mengembalikan keangkeran horor Thailand di posisinya semula. Dan tampaknya hal ini terbukti berhasil, terlihat dengan antusiasme penonton di Thailand yang luar biasa. Ladda Land berhasil menduduki puncak Box Office Thailand pada minggu pertama perilisannya dengan mengumpulkan 463,084,261 Baht ( sekitar $ 1.531.337), bahkan pendapatannya itu mampu mengalahkan kedasyhatan dewa petir, Thor.
Seperti yang kerap dilakukan Sukdapisit sebelumnya, dalam Ladda Land ia kembali mencoba tema yang berbeda dari kebanyakan horor lain. Jika Shutter  memfokuskan dirinya pada kisah seorang fotografer, Alone pada teror hantu saudara kembar dan Coming Soon dengan setting bioskop dan roll film angkernya, kini ia  membawa genre rumah berhantu ke level selanjutnya. Tidak hanya melibatkan satu rumah berhantu dan satu konflik saja, tidak tanggung-tanggung, ia membawa sebuah kompleks perumahaan elit dengan segala permasalahannya baik hal-hal gaib dengan segala penampakan mengerikannya maupun konflik keluarga sehari-hari yang melibatkan permasalahan ekonomi dan gengsi seorang kepala keluarga. Ya, jujur saja ini seharusnya menjadi sebuah sugguhan horor yang menjanjikan, sayangnya tidak berkahir semenjanjikan premisnya itu dalam prosesnya.
Dua masalah utama yang berusaha disajikan berimbang oleh Sukdapisit  disini rupanya tidak mampu berjalan sempurna dan saling menguatkan. Ketika drama keluarga dengan segala tetek bengek melodrama dan isu-isu sosialnya bisa tersaji lebih kuat dan menarik, Ladda Land malah harus menderita pada sisi horornya, malah membuat elemen yang seharunya mendapatkan porsi paling besar ini terkesan sebagai sebuah subplot tambahan yang buruk termasuk dengan hadirnya rentetan plot hole yang tidak pernah terungkap dan juga terkesan terlalu dipaksakan hanya untuk memenuhi tujuannya untuk menakut-nakuti penontonnya dengan cara murahan tanpa memberikan asas cerita yang kuat. Bukan berarti saya mengatakan Sukdapisit gagal total dalam menghadrikan segala momen mencekam dan atmosfer creepynya. Di beberapa bagian Ladda Land masih mampu memberikan terapi kejut yang efektif, sayang klimaksnya sedikit tertebak tetapi saya menyukai bagaimana kemudian Sukdapisit memilih sentuhan drama ketimbang horor untuk menutup kisahnya.
Jelas bukan horor Thailand terbaik yang pernah saya tonton, bahkan Coming Soon yang pas-pasan itu saja terlihat lebih baik dalam tugasnya untuk menakut-nakuti penontonnya. Coba saja lepaskan embel-embel horornya, Ladda Land bisa saja berpotensi untuk menjadi sajian drama yang menarik, sayangnya tidak berlaku sebaliknya.
Rating: ★★★★★★¾☆☆☆ 

No comments:

Post a Comment