Tuesday, October 9, 2012

Review Film 127 Hours


Film yang diangkat dari kejadian nyata ini bercerita tentang Aron Ralston (James Franco) yang pada 25 April 2003 memasuki Grand Canyons untuk melakukan perjalanan wisata seorang diri dan mengabadikannya dengan handycam. Aron bermaksud mendaki Blue John Canyon. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan dua gadis yang tersesat saat berniat mencari rute kembali. Mereka adalah Kristi (Kate Mara) dan  Megan (Amber Tamblyn). Aron lalu menawarkan bantuan dan menunjukkan jalan pintas melewati celah di salah satu ngarai dan menjatuhkan diri ke bawah. Di bawah ngarai tersebut ternyata ada semacam kolam bawah tanah. Ketiganya lalu mengabadikan aksi mereka saat meluncur dari celah di ngarai itu hingga terjun ke air di bawah mereka dengan handycam milik Aron. Ketiganya lalu berpisah. Sebelumnya kedua gadis itu mengundang Aron datang ke pesta yang mereka adakan.

Saat melanjutkan perjalanan seorang diri melewati celah-celah di antara ngarai, salah satu bebatuan besar yang menjadi pijakan kakinya tiba-tiba bergeser. Aron pun tergelincir jatuh dan salah satu tangannya tertindih batu itu hingga berdarah. Aron terjepit di antara celah ngarai. Meski telah mencoba menarik tangannya, tapi usahanya sia-sia saja. Aron lalu berusaha mengangkat batu dengan tangannya yang bebas, mendorongnya dengan tangannya, menendangnya dengan kaki, mendorongnya lagi dengan bahunya, tapi usahanya tidak juga membawa hasil. Di tengah rasa putus asanya Aron berteriak sekeras mungkin memanggil Megan dan Kristi. Tidak ada bantuan yang datang. Ia akhirnya mencoba mengikis batu dengan pisau lipat yang ia keluarkan dari ranselnya, tapi hingga tangannya kebas dan malah pisau lipatnya terjatuh ke bawah, ia tidak juga berhasil membebaskan diri. Dengan susah payah Aron meraih kembali pisau lipatnya dengan ranting yang ia jepit di antara jari kakinya. Saat ia berhasil meraih pisau lipatnya dan terus mengikis batu yang menindih tangannya, usahanya tidak membawa perubahan. Hingga hari beranjak malam, ia tetap terjebak di antara celah ngarai.

Sendirian tanpa pertolongan, Aron hanya bisa membayangkan dirinya selamat. Hari pun berganti. Saat pagi menjelang dan merasakan matahari menyinari tubuhnya, Aron mulai teringat kenangan masa kecilnya saat ia dan ayahnya mendaki ngarai dan duduk di salah satu bebatuan besar sambil menikmati pemandangan di bawahnya. Pada 27 April 2003, Aron merekam dirinya di handycam. Ia menyebutkan namanya, nama orang tuanya dan alamat tempat mereka tinggal. Ia berpesan agar siapa pun yang nanti menemukan handycam dan jasadnya jika ia nanti meninggal, ia berharap orang itu bisa memberikan pesan terakhirnya di handycam itu kepada orang tuanya. Tanpa makanan dan hanya sedikit air minum yang tersisa, harapan Aron untuk selamat kian menipis. Saat runtuhan pasir di atasnya jatuh menimpa wajahnya, Aron langsung berteriak lagi, berharap ada orang yang datang untuk memberikan pertolongan. Sayangnya tidak ada siapa-siapa. Aron pun mulai mengkhayal lagi. Ia membayangkan dirinya menghadiri pesta yang diadakan oleh Megan dan Kristi. Ia juga membayangkan dirinya makan. Ia menyesalkan mengapa tidak memberitahu siapa pun ke mana ia pergi. Ia membayangkan andai saja setelah selesai mandi, ia sempat menjawab mesin penjawab teleponnya sehingga orang dapat mencarinya jika ia tidak juga kembali.

Keesokan harinya, Aron membayangkan minuman yang ia tinggalkan di mobilnya. Meski telah mencoba mengungkit batu di depannya dengan tali, usaha Aron tetap sia-sia. Satu-satunya yang menjadi penghiburannya cuma sinar matahari yang sempat menghangatkannya selama lima belas menit dan suara burung elang yang terbang di langit di atasnya. Aron akhirnya mencoba memotong lengannya yang terjepit batu. Usahanya gagal. Hanya lengannya yang berdarah, tapi ia masih terjebak di situ. Ia merekam lagi dirinya di handycam dan mengingat lagi kenangan-kenangan dalam hidupnya. Ia juga membayangkan hujan tiba-tiba turun sangat lebat sehingga ia dapat minum dari air hujan. Bahkan hujan yang lebat membuat batu yang menindih tangannya terguling dan ia akhirnya bisa bebas. 

Hari berganti lagi. Kali ini Aron membayangkan dirinya menjadi salah satu tamu dalam acara talk show dan mencoba mengamputasi lagi tangannya. Begitu pun esoknya, sambil memutar lagi rekaman di handycam-nya, Aron membayangkan Scooby Doo, eks kekasihnya yang memutuskan hubungan mereka di pertandingan baseball, hingga kenangannya saat bermain piano bersama saudara perempuannya, Sonja (Lizzy Caplan) sewaktu mereka masih kanak-kanak. Saat baterai handycam-nya hampir habis, Aron telah mengukir nama dan tanggal kematiannya di batu dengan pisau lipatnya karena ia tidak yakin akan bertahan hidup. Berikutnya ia membayangkan dirinya menjadi ayah dan memiliki anak laki-laki yang diajaknya bermain. 

Di tengah khayalan dan lamunannya, Aron terus mencoba memotong tangannya agar bisa selamat. Saat lengannya akhirnya patah, ia harus menahan rasa sakit dan terus mengamputasi tangannya dengan pisau lipat. Saat usahanya akhirnya berhasil, dengan tertatih-tatih Aron harus berjalan melewati gurun dan menahan diri agar tidak kehilangan kesadarannya. Pertolongan akhirnya tiba saat ia tanpa sengaja bertemu pasangan suami-isteri dengan anak mereka. Setelah meminum air pemberian mereka, Aron akhirnya diselamatkan dengan menggunakan helikopter.

Di akhir film disebutkan bahwa penglihatan Aron menjadi kenyataan. Ia bertemu isterinya, Jessica tiga tahun kemudian dan dikaruniai seorang anak laki-laki yang lahir pada bulan Pebruari 2010. Aron terus melanjutkan menjadi pendaki ngarai. Ia selalu meninggalkan pesan untuk memberitahu ke mana ia pergi.

Dibandingkan The King's Speech, saya merasa film ini yang seharusnya memenangkan kategori Best Picture. Film ini dengan mudah membawa penonton ikut berempati dan merasakan keputusasaan yang dialami Aron Ralston saat mencoba membebaskan diri dari batu besar yang memerangkapnya selama 127 jam di celah ngarai, tanpa makanan dan pertolongan. Dramatisasi dalam film ini juga mengena, khususnya saat kamera menyorot bagaimana Aron menghabiskan air minum terakhirnya tanpa menyisakan setetes pun. Begitu juga saat Aron tanpa sengaja menumpahkan sebagian air minumnya yang memang tinggal sedikit. Juga scene saat Aron melamunkan hujan besar yang menggulingkan batu. Saat penonton menyadari bahwa itu hanya khayalan Aron dan tokoh utamanya masih terjebak di celah ngarai, keputusasaan Aron jelas terasakan. Hingga akhirnya Aron berhasil memotong lengannya, saya sempat ragu apakah ini masih merupakan khayalan Aron atau bukan. Scene yang sangat mengganggu dalam film ini adalah saat Aron mengamputasi tangannya sendiri. Saya memalingkan wajah beberapa kali saat scene ini. Akting James Franco saat menterjemahkan rasa sakit yang harus ia tahan saat memotong lengannya dan rasa putus asanya seharusnya bisa mendapat penghargaan lebih daripada sekedar dinominasikan dalam Oscar tahun ini di kategori Actor in a Leading Role. Pendeknya, film ini sangat menggugah.

No comments:

Post a Comment