Georges Méliès: ” If you’ve ever wondered where your dreams come from, you look around… this is where they’re made.”
Paris, 1931, ada seorang bocah yatim piatu 12 tahun, Hugo Cabret (Asa Butterfield) namanya. Paska kematian ayahnya (Jude Law) Hugo tinggal bersama Claude Cabret (Ray Winstone), pamannya yang pemabuk di stasiun kereta api Gare du Nord dan mengajarinya untuk merawat jam-jam disana sebelum akhirnya ia pergi, meninggalkan bocah malang itu seorang diri. Hugo punya keinginan besar, yaitu memperbaiki automaton rusak warisan ayahnya karena ia percaya sang ayah memberikan wejangan terakhir untuknya melalui robot itu. Jadi dalam usahnya untuk menghidupkan kembali boneka besi itu Hugo sering mencuri onderdil dari toko mainan milik pria tua bernama Papa George (Ben Kingsley), sembari menghindari kejaran Gustav (Sacha Baron Cohen) sang pengawas stasiun. Hugo juga menjalin persahabatan dengan Isabelle (Chloë Grace Moretz) cucu Papa George yang kemudian membantunya untuk mengungkap misteri dibalik automaton rusak itu, tapi apa yang mereka temukan sungguh mengejutkan.
Hanya 12 menit yang dibutuhkan, melalui opening scene nya yang megah dan cantik itu Hugo langsung memikat dengan pergerakan kamera liarnya, mengajak kita terbang menembus butir-butir salju dan uap, atap bangunan, mesin-mesin jam, memasuki keramaian stasiun Gare du Nord hingga kemudian mengajak kita bertemu dengan mata biru Hugo. Dalam hati, dengan kualitas teknis sinematik sekeren itu saya tahu ini akan menjadi pengalaman menonton karya Martin Scorsese yang berbeda, belum lagi kisahnya sendiri diangkat dari novel hebat, The Invention of Hugo Cabret milik penulis amerika Brian Selznick yang kemudian tiap lembar halamannya berhasil digubah penulis naskah John Logan yang juga sebelumnya pernah bekerja dengan Scorsese dalam The Aviator menjadi sebuah cerita adaptasi yang luar biasa.
Awalnya, mungkin Hugo terlihat terlalu childist dengan kisah bocah 12 tahun yang setengah mati berusaha memperbaiki robot ayahnya dan dikejar-kejar penjaga stasiun yang kejam, tapi apa yang terjadi setelah itu adalah cerita luar biasa. Hugo bisa jadi bukti kecintaan seorang Scorsese pada dunia film, dalam kasus ini ia sudah dengan luar biasa mengerjakan pekerjaan rumahnya guna mendedikasikan Hugo buat ilusionis dan juga pionir film Perancis Georges Méliès yang terkenal dengan karya-karya legendarisnya macam A Trip to the Moon (1902) dan The Impossible Voyage (1904), apalagi jika sebelumnya anda pernah melihat klip sebuah roket menghantam bulan yang berwajah maka secara tidak langsung ada sudah sedikit mengenal Méliès. Bagian ini menjadi bagian terbaik dari Hugo. Kisah anak-anak diawal seakan-akan lenyap digantikan dengan kehangatan sejarah tentang lahirnya film dan bagaimana pertama kali manusia mewujudkan mimpi-mimpi liar mereka yang sanggup membuat kita turut tersenyum sembari meratapi bahwa tidak terlalu banyak dari kita yang mau mengingat kembali bagaimana asal muasal keajaiban visual itu bermula. Coba lihat reaksi para penonton ketika menonton film pertama, Arrival Of A Train At La Ciotat dari Lumière bersaudara yang juga menginspirasi Méliès untuk memulai membuat film-film hebat, sungguh tidak ada tandingannya.
Hugo adalah debut Scorsese dalam dunia 3D, dan untuk seorang sutradara veteran yang baru pertama kali menangani teknolgi ini Scorsese sudah mampu menghadirkannya dengan sangat baik. Gambar-gambarnya terlihat luar biasa dan hebatnya, tidak terkesan terlalu berlebihan karena semuanya mampu menyatu dengan bagaimana sutradara berambut putih ini mendirect nya, termasuk pergerakan kamera yang dinamis dan juga dukungan efek CGI yang menjadikan dunia Hugo begitu mempesona sama mempesonanya ketika ia menampilkan bagaimana Méliès dalam wujud Beng Kingsley yang luar biasa itu dan sang istri, Jeanne (Helen McCrory) membuat film-filmnya dengan penuh semangat dan keceriaan sebelum akhirnya mereka dilupakan.
Mungkin beberapa sub plotnya tidak bekerja terlalu baik, ambil contoh kisah inspektur Gustav dan Lisette (Emily Mortimer) wanita penjual bunga atau dua lansia yang sedang kasmaran, bahkan tidak ada petualangan yang kelewat hebat di sini seperti yang diharapkan Isabelle, kecuali anda menganggap masuk bioskop dan menonton Safety Last!-nya Harold Lloyd tanpa izin itu adalah sebuah petualangan luar biasa. Tapi bagaimanapun secara keseluruhan Hugosudah bekerja dengan sangat baik, ceritanya berkembang hebat seiring berjalannya waktu, mengharukan, menghenyakan dan juga punya hati yang besar. Scorsese tahu benar bagaimana menunjukan kecintaannya pada film, dunia yang sudah membesarkannya selama ini dengan sebuah sajian drama keluarga paling berkesan tahun lalu.
Rating: 









No comments:
Post a Comment