Paul: Have you heard of extreme tourism?
Sekelompok turis asing sedang berlibur, kejadian buruk kemudian menimpa mereka ketika bla…bla…bla… Ya, dalam dunia horor premis ini mungkin sudah lusinan kali kita dengar, ya, basi memang tetapi entah kenapa saya tidak pernah kapok untuk menonton dan menontonnya lagi. Dan untuk kasus Chernobyl Diaries, ada alasan lebih untuk saya menunggunya. Pertama ia diproduseri dan naskahnya juga ditulis oleh kreator Paranormal Activity, Oran Peli, memang bukan berarti jaminan akan menjadikan filmnya bagus, kedua, seperti judulnya ia menjadi horor pertama yang menyajikan Chernobyl sebagai latar belakang ceritanya.
Buat yang tidak tahu apa itu Chernobyl, ia adalah nama sebuah kota di Ukraina sana yang 24 tahun lalu, tepatnya pada Sabtu, 26 April 1986 di saat masih berada di bawah kendali Uni Soviet pernah menghadirkan sebuah horor sebenarnya, sebuah bencana radioaktif terburuk sepanjang sejarah umat manusia ketika salah satu reaktor nuklirnya meledak dan mencemari lingkungan serta atmosfer di sekilingnya dalam radius berkilo-kilo meter, menginfeksi 500.000 dan membunuh 31 satu pekerjanya, belum lagi efek jangka panjang berupa kanker dan perubahan bentuk tubuh yang mengerikan akibat efek radioaktif. Jadi jika kisah di baliknya sudah semenakutkan itu, bagaimana jika dikombinasikan dengan seuah film horor? Sayang hasilnya malah antiklimaks, apa yang sudah dibuat Peli dan sutradara Bradley Parker lebih terlihat seperti sebuah horor bodoh ketimbang menakutkan.
Tema ‘liburan yang menjadi bencana’ jelas tidak orisnil, tetapi itu bukan masalah terbesar di sini, yang menjadi masalah adalah naskahnya. Pertanyaannya, manusia macam apa yang nekat untuk melakukan kunjungan wisata kePrypiat, kota paling dekat dengan bencana Chernobyl yang kini menjadi kota ‘mati’? Kalaupun kamu masih nekat tentu saja harus memakai perangkat keselamatan untuk menghindari terkontaminasi radioaktif yang hingga kini masih ada dalam jumlah tinggi di sana. Bahkan jika dibayar sekalipun saya berpikir 1000x untuk menginjak tanah Chernobyl. Ya, premisnya menarik sekaligus bodoh, tetapi kebodohan itu baru awalnya saja, kamu masih akan menemukan lebih banyak lagi ketika ia menarikmu lebih dalam, ketika bertemu dengan karakter-karkaternya yang sama annoying-nya dengan ramuan plot-nya yang juga penuh lubang di sana-sini.
Bukan berarti Chernobyl Diaries tidak menakutkan, ia masih punya kemampuan untuk membuatmu bergidik ketika melalui style dokumenter dengan banyak menggunakan kamera genggam Parker menyorot setiap jengkalPrypiat yang terbengkalai, termasuk setiap lorong-lorong sempitnya terutama di malam hari yang minim cahaya, belum lagi sekelebatan penampakan-penampakan yang sanggup membuatmua imajinasi liarmu membayangkan hal-hal terburuk, tetapi ketika terlalu banyak hal-hal ganjil serta terlalu dipaksakan, ketakutanmu lalu dengan mudah berubah menjadi sebuah kerutan besar di dahi, misalnya penampakan sosok bocah perempuan yang entah dari mana datang dan perginya, padahal ini bukan horor bertema supranatural, atau yang paling menjengkelkan ketika banyak karakternya memilih berteriak-teriak ketimbang bersembunyi dan membuat diri mereka lebih aman.
Chernobyl Diaries sebenarnya punya potensi untuk menjadikan dirinya sebuah sajian horor menakutkan, belum lagi bekal peristiwa nyata di baliknya yang jujur malah lebih horor ketimbang filmnya sendiri. Tetapi ketika naskah buruk dan rentetan plot hole mulai mencemarinya, yang kemudian tersisa hanya umpatan-umpatan kasar ketika melihat banyak kebodohan demi kebodohan dan karakter-karakternya annoying-nya yang mungkin membuatmu berharap agar mereka sesegara mungkin menemui ajalnya. Tetapi jika kamu masih penasaran dengan perjalanan wisata ekstrem di tanah eks Uni Soviet ini, Chernobyl Diaries masih menyenangkan untuk ditonton, tentu saja jika kamu tidak terlalu mempersalahkan banyak kekurangannya.
Rating: 








No comments:
Post a Comment