Kyle: ” We’re just friends but I just want you to know, if I were him I’d never let you go “
Saya mengira tidak ada lagi film Miley Cyrus yang lebih buruk dari The Last Song, saya jelas salah, karena ternyata adaLOL yang seperti judulnya memang pantas di tertawakan nyaring. Ya, ini adalah remake dari drama coming of agePerancis populer, LOL (Laughing Out Loud) (R) 2008 lalu yang dibintangi oleh Sophie Marceau. Untuk versiHollywood-nya Lionsagete masih dipercayakan oleh sutradara versi aslinya, Lisa Azuelos yang tampak terlalu percaya diri bahwa versi daur ulangnya ini akan bisa sesukses pendahulunya, sayang kenyataanya tidak seperti itu. Budgetnya memang tidak besar, ‘hanya’ 11 juta Dollar, tapi dengan cuma mengantongi pendapatan sebesar 46 ribu Dollar pasti ada yang salah dengannya. Ya, salahkan Lionsgate yang tidak pernah serius memasarkannya. LOL hanya ditayangkan terbatas di Amerika Serikat sana Mei lalu setelah sebelumnya India mendapatkan kesempatan pertama penayangannya pada bulan Pebruari. Dan Lucunya lagi, LOL sendiri sebenarnya sudah selesai diproduksi sejak 2 tahun lalu. Tapi kalau melihat kualitas LOL saya tentu maklum mengapa Lionsagte tampak tidak percaya diri untuk terlalu serius memasarakan dramanya satu ini.
So, LOL tidak menawarkan sesuatu yang baru di narasinya. Tema tentang pergaulan remaja SMU masa kini dengan segala suka dukanya dan juga tema tentang hubungan ibu-anak yang sudah berulang kali dijejelkan dalam drama-drama remaja kebanyakan dengan menjadikan dunia digital sebagai gimmick-nya. Sebenarnya tidak jadi masalah seberapa usang premisnya itu, namun yang menjadi masalah dalam LOL adalah lemah dan tidak menariknya naskah yang garapan Azuelos. Ya, konyol memang, sutradara dan penulis yang sama, sementara di film aslinya begitu sukses namun harus gagal total di remakenya. Jadi siapa yang harus disalahkan lagi? Miley Cyrus? Demi Moore? Harus diakui Cyrus memang tidak pernah bisa tampil bagus di film layar lebarnya. Perannya selalu sama, remaja labil menyebalkan dengan romasa buruk plus sering ribut dengan orangtuanya. Saya tidak tahu mengapa tapi Miley sepertinya memang tidak pernah jago berakting dan memilih peran yang cocok buatnya. atau setidaknya peran yang tidak sampai mencerminkan kehidupan sehari-harinya. Ya, Miley jelas kesulitan mempertahankan ekesistensinya paska meninggalkan imejnya sebagai putri Disney. Tidak berbeda jauh dengan seniornya, Demi Moore juga tampak kesulitan memilih film yang benar-benar membuat dirinya bisa kembali berjaya seperti pada era 90′an dulu.
LOL banyak menyinggung pengalaman soal pertemanan, romansa dan permasalahan keluarga dilihat dari sudut pandang remaja perempuan di era facebook, youtube dan twitter saat ini, masalahnya ia tidak pernah benar-benar serius menghadirkan setiap konfliknya. Semua terasa hambar dan datar, seperti melihat salah satu episode buruk dariDawson’s Creek dan Gilmore Girls dengan parade akting amatiran dari para pemainnya. Satu-satunya yang bagus di sini mungkin hanya soundtracknya, salah satunya macam Somewhere Only We Know-nya Keane. Jadi dengan buruknya kualitas LOL jelas semakin membuat saya percaya bahwa setiap film yang dibintangi Miley Cyrus sebagai peran utamanya bisa dipastikan tidak pernah bagus, ya, mudah-mudahan saja asumsi saya salah, tapi untuk sementara ini memang terbukti dan Sisi positifnya lagi, saya menjadi tergoda untuk menonton versi Perancisnya yang konon jauh lebih baik.
No comments:
Post a Comment