Monday, October 8, 2012

REVIEW – SANCTUM (2011)



 The only way out is down “
Jika ada sebuah film yang lebih mengandalkan nama eksekutif produsernya sebagai daya tarik jualannya ketimbang premisnya itu sendiri, mungkin Sanctum adalah salah satu contohnya. Yup, tampaknya sang sutradara Alister Grierson kurang pede pada kemampuannya sendiri sampai-sampai harus dengan memanjang besar-besar nama sutradara pemegang dua rekor film terlaris sepanjang masa itu di posternya untuk dapat menarik perhatian penontonnya.
Menonton survival thriller satu ini seperti seakan-akan menonton perpaduan dari The Descent dengan elemen penjelajahan gua-nya, plus The Abyss dengan momen ekspedisi bawah lautnya, namun minus kehadiran monster pemakan manusia ataupun sosok alien misterius didalamnya dan hanya meninggalkan sebuah kisah dari sekelompok manusia-manusia tidak beruntung yang terjebak dan harus berjuang bertahan hidup di gua bawah laut yang terletak di kedalaman beratus-ratus meter di suatu tempat di hutan Papua Nugini. Kisahnya sendiri sebenarnya terinspirasi dari pengalaman nyaris mati Andrew Wight yang juga menjadi salah satu penulis naskah film ini disaat dirinya terjebak di gua bawah laut bersama 14 orang lainnya.
Sayang ada atau tidaknya nama James Cameron di belakangnya tetap tidak membuat Sanctum menjadi lebih istimewa. Seperti yang sudah saya singgung diatas film produksi Australia ini tidak menawarkan kejutan-kejutan spesial seperti kehadiran mahkluk-mahkluk ganas ataupun unsur-unsur supranatural lainnya jadi jangan sampai tertipu oleh posternya yang sepertinya membuat film ini terlihat mengerikan. Kelemahan terbesar Sanctum disebabkan ketidakmampuan Grierson mengolah setiap momen mencekam di dalamnya dengan baik. Banyak adegan-adegan menarik yang seharusnya mampu membuat adrenalin para penontonnya terpacu malah terlihat ‘menguap ‘begitu saja tanpa bekas, sama sekali tidak meninggalkan kesan.  Hal  tersebut masih diperburuk lagi dengan pengolahan naskah yang lemah. Sepertinya Andrew Wight mengalami kesulitan untuk mengkonversikan kisah mengerikan yang pernah dialaminya ke dalam versi film, tidak adanya korelasi yang kuat antar karakternya juga semakin menambah parah ‘penyakit’ yang diderita Sanctum. Hasilnya adalah 109 menit yang datar, dangkal dan membosankan, bahkan saya harus menambah satu lagi kelemahan film ini, ya, akting yang buruk dari para pemainnya, khususnya buat Rhys Wakefield yang terlalu overacting.
Namun seburuk-buruknya film ini, saya masih mengagumi bagaimana mereka menghadirkan set gua dengan meyakinkan. Nyaris 90% Sanctum mengambil settingnya dalam sebuah gua bawah laut yang luar biasa besar, lengkap dengan lorong-lorong  dan celah-celah sempitnya yang digarap cukup detil, pemandangan bawah laut biru yang mempesona, apalagi disini Grierson menyajikannya dengan kualitas visual cukup mumpuni dengan tambahan efek 3Ddari fusion camera yang ‘dipinjam’ dari James Cameron (walaupun saya sendiri tidak menonton versi 3D-nya)
Overall,  Sanctum tidak lebih dari sebuah thriller adventure medioker belaka dengan cerita lemah, akting pas-pasan dan penyutradaraan yang buruk. jadi ada atau tidaknya pengaruh seorang James Cameron didalamnya tetap saja membuat film satu ini dengan mudah dilupakan penontonnya.
Rating: ★★★★★★¼☆☆☆ 

No comments:

Post a Comment