Adam: ” Honey, it’s an old house, it’s probably nothing “
Sarah (Elizabeth Olsen) bersama ayah (Adam Trese) dan pamannya (Eric Sheffer Stevens) sedang merenovasi rumah liburan mereka yang terletak di pinggir kota itu untuk kemudian dijual nantinya. Segera saja Sarah mendapati suara-suara misterius yang berasal dari lantai dua rumah itu. Dan ketika ia besama ayahnya memeriksa asal muasal suara itu maka dimulailah mimpi buruk Sarah.
Membuat sebuah remake itu sebenarnya gampang-gampang susah, gampang karena kamu sudah punya banyak ‘contekan’ dari film pendahulunya, susah karena pada kenyataannya tidak pernah mudah untuk dapat menghadirkan kualitas daur ulang yang bisa lebih baik atau setidaknya menyamai pendahulunya tanpa terkesan menjiplak habis-habisan, dan hasilnya lebih banyak yang gagal daripada sukses seperti salah satunya yang terjadi pada remake horor Uruguay milik Gustavo Hernández ini.
FYI saya sudah menonton versi aslinya, The Silent House a.k.a La Casa Muda tahun lalu. Yap, Itu adalah horor kecil unik nan ambisius yang berani menyajikan 78 menit dari total 86 menit durasinya untuk dishoot secara real time,nyaris tanpa cut, ya, nyaris karena pada kenyataanya ada momen di mana Gustavo Hernández dengan cerdas mengelabui kita untuk percaya bahwa semua kengerian di dalamnya diambil dalam single take. Lalu tahun ini ada duet Chris Kentis dan Laura Lau, pasutri yang pernah menghasilkan teror hiu laut lepas Australia dalam debut mereka,Open Water 2003 lalu yang dipercaya untuk mendaur ulang The Silent House. Tentu saja masih dengan konsep cerita yang kurang lebih sama, sedikit pemain (ada 4 pemain, sementara La Casa Muda 3 pemain) dan juga teknik kamera single continuous shot yang setia membututi Olsen kemanapun ia pergi.
Yap, suka tidak suka saya akan membandingkannya dengan La Casa Muda, dan jika anda sudah menonton versi aslinya mungkin anda sepakat bahwa ini adalah remake yang buruk. Chris Kentis dan Laura Lau gagal menghadirkan kengerian sebuah home invasion horor yang sama dengan pendahulunya. Butuh waktu sedikit lebih lama sebelum semua bencana terjadi. Ketimbang La Casa Muda, anda akan menemukan naskah versi Hollywood-nya ini lebih bersahabat dengan banyak menampilkan petunjuk-petunjuk yang tersebar di sepanjang 85 menit durasinya yang pada akhirnya membuat ending-nya terasa lebih dapat diterima ketimbang versi aslinya yang serba mendadak itu.
Set rumah sebagai TKP-nya menjadi elemen penting di sini, namun yang terjadi adalah rumah berlantai dua itu terlihat terlalu bersih dan rapi sehingga tidak berhasil memberikan teror maksimal, lensa kamera HD-nya tampak terlalu jernih, membuatnya lagi-lagi gagal menyajikan kesan ‘kotor’ yang real, bahkan seperti yang dibocorkan Olsen, tidak ada long take super panjang di sini karena Chris dan Laura mengakalinya dengan melakukan cut setiap 12 menit untuk kemudian diedit agar terlihat seperti sebuah film yang dishoot secara real time. Dan lagi-lagi kesan naturalnya perlahan memudar ketika menginjak penghujung film karena keduanya memilih untuk menggunakan spesial efek komputer, hingga pada akhirnya The Silent House hanya menyisakan Elizabeth Olsen sebagai satu-satunya kecemerlangan dibalik tiruan-tiruan mentah yang dibuat Chris Kentis dan Laura Lau.
Jadi jika ingin mendapatkan sebuah suguhan teror home invasion maksimal dengan teknik long shot tingkat tinggi, saya sarankan untuk menonton versi aslinya saja karena terlalu banyak ‘tipuan’ di versi Chris Kentis dan Laura Lau ini, kecuali anda memang penggemar berat Elizabeth Olsen dan tidak keberatan dengan ‘imitasi’ murahan.
Rating: 








No comments:
Post a Comment